Kenang 108 Santri Dikubur Dalam Sumur PKI, Magetan Adakan Istighosah Akbar

68
Kenang 108 Santri Dikubur Dalam Sumur PKI, Magetan Adakan Istighosah Akbar
BAGIKAN

Kenang 108 Santri Dikubur Dalam Sumur PKI, Magetan Adakan Istighosah Akbar. Mengenang korban Keganasan / kekejaman PKI tahun 1948, santri Ponpes Sabilil Muttaqien (PSM), ormas Islam dan warga dipimpin KH Muhammad Sayyid Zuhdi melaksanakan istighosah dan doa bersama di Monumen Soco, Desa Soco, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan. Warga menghelat acara ini bersama TNI/ Polri.

Sebelum dzikir dan tahlil yang diikuti 350 umat muslim itu, KH Muhammad Sayyid Zuhdi
(Pengasuh Ponpes Cokro Kertopati Kabupaten Magetan-Jatim) menyampaikan tausyiah
bahwa kegiatan doa dan istighosah merupakan agenda tahunan yang rutin dilakukan untuk
mengirim doa kepada para korban keganasan PKI pada tahun 1948.

“Para korban dimasukkan ke dalam sumur di Desa Soco sebanyak 108 orang syuhada, dan para syuhada saat ini sudah diberikan tempat yang layak oleh Alloh SWT,” katanya.

Selain untuk mengenang korban, juga bertujuan untuk mengingatkan kepada generasi muda bahwa pada tahun 1948, PKI melakukan pembunuhan dan pembantaian dengan kejam.

Kepala Desa Soco, Suyanto menyampaikan terima kasih kepada Ponpes Cokro Kertopati Kecamatan Takeran Kabupaten Magetan, yang membimbing warga Desa Soco untuk mengenang keganasan PKI. Diakuinya, karena sangat besar pengaruhnya bagi sebagai orang tua dalam mendidik anak-anak agar tidak terjerumus.

Kades ini berharap kedepan, ada dukungan instansi terkait untuk memberikan bantuan agar acara doa dan istighosah ini dapat dilaksanakan secara istiqomah.

Pengasuh Ponpes Miftahul Nurul Huda, Magetan, KH Abdul Wachid juga menyampaikan tausyiah. Ia mengatakan bahwa orang hidup itu tidak boleh salah paham dan apabila tidak paham maka jangan menerangkan sesuatu yang belum paham.

“Orang mengaji itu ada banyak syaratnya. Untuk di Ponpes, yaitu wajib bisa membaca, bisa mengartikan, bisa memahami, bisa menjelaskan. Sedangkan mengaji di lapangan terbuka syaratnya, bisa datang dan mendengarkan,” kata KH. Abdul Wachid.

KH. Abdul Wachid juga menegaskan, para suhadak tersebut rugi di dunia karena dibunuh PKI, tapi beruntung di akhirat. Sebab, manusia di dunia itu ada macamnya sesuai amal yang diperbuat. Ada manusia yang rugi di dunia tapi untung di akhirat, celaka di dunia celaka di akhirat, dan untung di dunia tapi rugi di akhirat.

sumber

BAGAIMANA PENDAPATMU?